Jumat, 08 September 2017

Sanad Fikih Imam Malik

Sanad Fiqih Imam Malik by : Ahmad Zarkasih, Lc Tue 10 January 2017 04:36 | 3343 views | bagikan via Kota Madinah, adalah kota yang telah disepakati oleh sejarawan sebagai kota dengan perkembangan ilmu terbaik dan lingkungan keilmuan yang unggul di masa Bani Umayyah serta di awal-awal Dinasti ‘Abbasiyah. Bahkan ketika masa khulafa-ur-Rasyidin, kota menjadi tempat konvensi para sahabat Nabi s.a.w., dan mereka semua adalah para pembawa ilmu-ilmu Nabi s.a.w.. Jadi sudah pasti kota madinah adalah kota yang berisikan dengan ilmu dan para ulama mumpuni. Dan Imam Malik bin Anas adalah orang madinah tulen; itu keunggulan yang dimiliki Imam Malik jika dibanding dengan Imam madzhab lain. Keberadaannya di kota Nabi s.a.w. sejak kecil bahkan sampai wafat itu menjadi nilai plus yang sangat wajar banyak orang memujanya. Terlebih lagi adanya pengakuan dari sang baginda s.a.w. tentang ulama Madinah; يُوشِكُ أَنْ يَضْرِبَ الرَّجُلُ أَكْبَادَ الْإِبِلِ فِي طَلَبِ الْعِلْمِ، فَلَا يَجِدُ عَالِمًا أَعْلَمَ مِنْ عَالِمِ أَهْلِ الْمَدِينَةِ Dari Abu Hurairah r.a., Nabi s.a.w. bersabda: “Hampir saja orang-orang itu akan memukuli lambung unta (saking susahnya) dalam mencari ilmu. Dan kalian tidak akan menemukan seorang ulama yang lebih pandai dibanding ulama kota Madinah”. (shahih Ibn Hibban) Sanad Fiqih Imam Malik bin Anas Secara global, ilmu fiqih Imam Malik bin Anas itu diwariskan oleh ulama-ulama yang tergolong dalam 7 Ahli Fiqih Madinah, atau juga 10 Ahli Fiqih Madinah. Karena sudah barang tentu orang di sebauh kampong atau kota akan belajar kepada ulama kotanya sendiri. Walaupun memang tidak kesemua dari Ali Fiqih Madinah itu didatanginya secara langsung oleh sang Imam; disebabkan di antara mereka ada yang sudah tidak semasa dengan sang Imam. Di beberapa artikel sebelumnya di rubric ini, kamis sudah jelaskan ‘Siapa 7 Ahli Fiqih Madinah?’ (Klik) Di antara mereka yang didatangi langsung oleh Imam Malik dalam menuntut ilmu adalah; 1. Nafi’ (117 H) , budaknya Ibn Umar r.a.. beliau yang oleh Imam al-Bukhari disebut sebagai jalur ter-shahih periwayatn hadits kepada Umar serta anaknya; Ibnu Umar r.a., bahkan ter-shahih dari keseluruhan jalur sanad. Beliau (al-Bukhari) mengatakan; أصح الأسانيد كلها : مالك عن نافع عن ابن عمر “sanad yang paling shahih adalah Malik bin Anas, dari Nafi’ dari Ibu Umar”. (Muqaddimah Ibn Shalah 1/10) Artinya bahwa apa yang diriwayatkan oleh Imam Malik dari gurunya tersebut; Nafi’ adalah jaminan mutu yang sulit untuk dikatakan jauh dari kebenaran. 2. Muhammad bin Muslim atau yang masyhur dikenal dengan sebutan Ibn Syihab al-Zuhri (124 H); Ahli Hadits Madinah. Beliaulah orang yang diproyeksikan oleh Khalifah Umat bin Abdul Aziz dalam mega proyek pengumpulan hadots Nabi s.a.w. untuk pertama kalinya secara resmi. 3. Abdurahman bin Hurmuz (117 H), guru Imam Malik dengan masa paling panjang; 13 tahun. Beliau lah yang sangat ber[engaruhi dalam pembentuka adab seorang Malik bin Anas. Al-Qadhi ‘Iyadh merekam apa yang dinyatakn oleh Imam Malik tentang masa belajar Malik bin Anas kepada Ibn Hurmuz. Dan beliau (Imam Malik) juga menyatakan bahwa gurunya; Ibn Hurmuz adalah orang yang paling cerdas dalam hal menyanggah syuhbat-nya ahli nafsu, serta cerdas dalam mengurai perbedaan yang terjaid di antara masyarakat. (Tartiib al-Madarik 1/81) 4. Abu al-Zinad Abdullah bin Dzakwan (131 H), Ahli Fiqih Madinah yang juga seorang ahli hadits. Imam Abu Hanifah menyebutnya sebagai orang paling pandai dalam ilmu fiqih di Madinah bahkan melebihi Rabi’ah. (Tarikh Baghdad 10/86). 5. Yahya bin Sa’id al-Anshary (146 H). faqih sekaligus ahli hadits yang meriwayatkan hadits dari sahabat Anas bin Malik juga banyak periwayatn dari para Tabi’in. 6. Rabi’ah bin Abi Abdurahman (136 H), yang biasa dikenal dengan sebutan Rabi’ah al-Ra’yi; Rabi’ah ahli logika. Beliau tercatat sebagai ahli fiqih pertama kali yang majlisnya didatangi oleh Imam Malik di masjid Nabi s.a.w. denagn arahan ibunya sang Imam; karena memang beliau (Rabi’ah) ketika itu yang termasyhur, maka sang ibu mendorongnya untuk tidak pernah absen dalam majlis rabiah di masjid Nabawi. Sebelum akhirnya Imam Malik berkeliaran mencari ilmu ke sana kemari, berguru, meminta fatwa serta periwayatan hadits. Muhammad Khudhari Bek dalam kitabnya tarikh al-Tasyri’ al-Islamy (151-153) menyebutkan bahwa Imam Malik adalah seorang ah;li fiqih sekaligus ahli hadits, maka guru-guru Imam Malik (yang disebutkan di atas), ada yang diambil darinya fatwa fiqih, seperti Nafi’, Rabi’ah, Ibnu Hurmuz serta Ibnu al-Zinad. Di samping itu ada juga yang diambil darinya periwayatan hadits seperti Nafi’, Ibnu Syihab, dan juga yahya bin Sa’id al-Anshary. Sama seperti Imam Abu Hanifah, jalur ilmu yang dilalui Imam Malik membuat corak khas pada fatwa-fatwa fiqih yang dihasilkan; sangat Madaniyun. Begitu juga Imam Abu Hanifah yang sangat ‘Iraqiy. Karakter fiqih sahabat-sahabat Madinah yang ketat dan sangat mengandalkan teks-teks hadits seperti Ibnu Umar r.a., dan juga ada corak pengambilan Maslahah Umar bin Khaththab juga Anas bin Malik. Ibn Hurmuz dan Imam Malik Selain guru-guru di atas, Imam Malik juga belajar kepada banyak guru, bahkan ratusan guru yang ada di madinah semasa pencariannya terhadap ilmu syariah. Dan yang hebatnya, beliau pun beberapa kali sering menghadiri majlis ilmu dari ulama yang seumuran dengan beliau; salah satunya adalah Imam Ja’far bin Muhammad (148 H), atau biasa dikenal dengan sebutan Ja’far al-Shadiq; salah seorang cucu Rasul s.a.w. dan juga ahli fiqih dari kalangan ahl-Bait. Walau tidak sesering guru-gurunya yang lain dalam hal pertemuan, akan tetapi Imam Malik punya kesan yang sangat baik terhadap Imam Ja’far al-Shadiq. Beliau menyebut Imam Ja’far al-Shadiq sebagai orang zuhud yang sangat taqwa kepada Allah s.w.t, dan mencintai kakeknya (Muhammad s.a.w.). bahkan setiap kali meriwayatkan hadits Rasul, Imam Ja’far selalu dalam keadaan suci (tidak berhadat), dan tidak sekalipun terdengar dari beliau perkataan yang tidak berguna. (al-Qadhi ‘Iyadh dalam Tartiib al-Madarik 2/52) Banyak ulama menyebut bahwa ketawadhuan Imam Malik itu diperoleh dari gurunya Ibnu Hurmuz semasa beliau menghabiskan waktu belajar kepadanya selama 13 tahun. Saking tawadhu’-nya beliau (ibnu Hurmuz) melarang Imam Malik menuliskan namanya dalam sanad keilmuannya, khawatir apa yang diajarinya adalah kekeliruan. Karena itu, nama Ibnu Hurmuz memang tidak semasyhur guru-guru Imam Malik lain, seperti Rabi’ah, al-Zuhri, atau juga al-Zinad. Al-hafidz Ibnu Abdil-Bar dalam kitabnya yang masyhur Jami Bayan Al-Ilmi Wa Fadhlih (2/234), bercerita tentang Imam Malik dan temannya Abdul Aziz bin Abi Salamah yang selalu “mondar-mandir” ke rumah Imam Ibnu Hurmuz untuk belajar. Selain kedua muridnya ini, ada tokoh lain yaitu Muhammad bin Ibrahim bin Dinar beserta kawan-kawannya yang juga selalu datang menemui Imam Ibnu Hurmuz untuk meminta ilmu. Namun setiap kali Muhammad dan segerobolan temannya ini datang ke Imam Ibnu Hurmuz, beliau selalu menolak untuk menjawab pertanyaan yang diajukan. Sampai akhirnya, Muhammad bin Ibrahim dengan muka kesal sambil berkata: “saya sangat tidak senang dengan perlakuan guru kepada kami. Kenapa guru tidak pernah menjawab pertanyaan-pertanyaan kami, sedangkan jika Malik bin Anas dan Abdul Aziz yang datang, guru selalu saja menjawab semua pertanyaan mereka. Ini tidak adil!” Kemudian Imam Ibn Hurmuz berkata: “wahai Muhammad! Aku ini orang tua yang sudah berumur, ke-tua-an ku sudah menggrogoti tubuhku. Aku takut ke-tua-an ku ini juga mengrogoti otakku sebagaimana ia telah menggroroti tubuhku. Sehingga aku sangat mungkin lupa dan salah. Malik dan Abdul Aziz adalah 2 orang pintar di kota ini, kalau aku katakan sesuatu yang benar mereka berdua akan menerimanya. Kalau aku katakana sesuatu yang salah, pastilah mereka menolak dan tidak mengamalkan itu. Nah kamu beserta rombonganmu itu adalah orang yang tidak berilmu. Aku takut (karena umur tua ku) aku katakan sesuatu yang salah, kamu terima itu begitu saja dan kemudian kau sebarkan. Itu akan menambah dosa bagi ku.” Wallahu a’lam

0 komentar:

 

Penakluk Senja! Published @ 2014 by Ipietoon

Blogger Templates